Aku terbangun dari tidurku. Entah berapa lama aku terlelap kali ini. Saat aku melihat jam di dinding waktu itu, dua jarum yang biasanya berjauhan kali ini mereka menjadi satu. Aku tidak tahu itu jam berapa karena aku memang belum pernah diajari membaca jam. Sampai saat ini aku baru bisa menulis namaku sendiri. Dika. Itu pun aku diajari oleh Mama sendiri, aku belum bisa sekolah seperti teman-teman lainnya. Kata Mama aku belum boleh sekolah karena kalau ke sekolah aku ga bisa ketemu Mama sepanjang hari. Mama sayang banget ma aku.
Aku menoleh ke samping kanan, hanya ada sebuah kotak besar yang layarnya kadang-kadang menampilkan gambar-gambar aneh dan berisik. Seperti gambarku yang selalu aku kasih ke Mama dan mama pasti menyukai gambarku dan langsung menyimpannya di sebuah album besar. Di album itu semuanya berisi gambar-gambarku. Mama selalu menyimpan album itu di meja samping tempat tidurnya. Aku senang tiap kali Mama senang dengan gambarku.
Aku juga pengen banget nunjukkin gambarku ke paman dokter dan tante yang juga selalu menemani paman tiap kali mereka datang ke kamarku. Gambarku lebih bagus dari gambar yang ada di kotak putih itu. Aku iri sama kotak putih itu, dokter selalu melihat gambar kotak putih. Padahal mesin kotak itu gambarnya jelek, dan aku juga ga suka sama mesin itu. Sepanjang hari, tiap aku bangun mesin itu selalu mengeluarkan bunyi biip terus menerus.
Aku pernah meminta Mama untuk memindah atau membuang kotak itu dari kamarku. Berisik. Tapi Mama bilang kotak itu tempat Mama melihat keadaanku kalau Mama pergi mandi atau tidak ada di samping tempat tidurku.Gagal usahaku menyingkirkan kotak itu.
Aku memandang seluruh ruangan yang berwarna putih itu. Tidak ada Mama. Ataupun Papa. Akumemandang ke arah pintu. Di sana rupanya papa dan Mama. Mereka sedang berbicara sama dokter. Terdengar sayup-sayup suara dokter, Mama dan Papa. Tapi tidak jelas.
“Maaf Bu, sepertinya kami tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Jantungnya Dika sudah terlalu lemah, ….” Suara dokter itu melemah, aku tidak bisa mendengar lagi. Tidak lama suara paman dokter mulai terdengar lagi, “ …. Mungkin hari ini adalah hari terakhir Dika. Maaf…”
Mama menangis. Aku ingin sekali memarahi paman dokter. Kenapa dia selalu membuat Mama menangis dan Papa bersedih, walaupun Papa tidak menangis. Setiap kali paman, Mama dan Papa berbincang-bincang pasti Mama mengeluarkan air mata. Paman dokter menjadi jahat waktu itu. Tapi saat paman dokter berbicara kepadaku, dia sangat baik. Dia selalu meminta aku untuk kuat agar bisa membahagiakan Mama dan Papa. Ah aku bingung. Sebenarnya paman dokter itu orang baik atau jahat. Tapi biarlah, aku ga peduli, di teman Mama dan papa, jadi aku harus tetap hormat sama paman.
Tapi kenapa Mama menangis. Berarti kan hari ini aku tidak harus ada di dekat kotak putih yang berisik itu, aku bisa tidur di rumah saja. Aku bisa bermain lagi sama Mama, Papa dan temen-temen.mama kan harusnya senang. Aku juga mau menggambar di rumah, aku mau pinjam album Mama yang isinya gambar-gambarku. Aku mau nunjukkin ke paman dokter kalau gambarku lebih bagus. Siapa tau kalau paman dokter melihat gambarku, dia mau menyingkirkan kotak putih yang berisik itu. Mama, jangan menangis ya Ma.
Setiap kali dokter memintaku untuk kuat, aku tidak mengerti maksud dokter kuat gimana. Aku kuat kok, hanya saja kadang-kadang dadaku sakit, tapi setelah aku menemui dokter atau minum permen yang pahit dari paman dokter, sakitku hilang. Jadi aku pasti kuat, dan tanpa diminta paman dokter pun aku pasti membahagiakan Mama dan Papa.
O iya, Mama baik banget lho. Dia selalu bermain sama aku. Kalau Papa juga baik, tapi Papa hanya ada di rumah kalau malam. Kata mama, Papa pergi buat nyariin mainanku. Mama selalu buatin aku makanan yang enak, makanan Mama jauh lebih enak daripada makanan yang dikasih sama paman dokter. Mama top banget deh.
Aku merasa ngantuk lagi. Mataku tak mampu lagi melihat Mama, Papa dan paman dokter dengan jelas. Pembicaraan mereka pun tak bisa lagi kucuri. Aku hanya melihat langit-langit kamar itu. Aku teringat waktu itu. Aku pernah mendengarkan Mama dan Papa lagi ngobrol. Aku memang suka mendengar pembicaraan orang yang berada di sekitarku. Kadang pembicaraan mereka memakai kata-kata yang aku ga tau artinya. Jadi aku hanya membuat perkiraan saja.
Seperti saat Mama bilang dia pernah mau mengaborsi Dika. Aborsi. Aku tidak tau artinya. Aku lalu hanya menebak-nebak saja. Mama kan baik, jadi mungkin itu artinya Mama pernah mau memberiku sesuatu yang bagus, namanya aborsi. Atau mungkin mama pernah mau menyingkirkan kotak putih itu, jangan-jangan kotak putih itu namanya aborsi. Ya mungkin saja.
Penglihatanku semakin kabur. Kepalaku tiba-tiba pusing. Di saat seperti ini, pasti kotak putih itu semakin berisik. Benar, kotak putih itu semakin berisik. Bahkan lebih berisik dari yang aku kira. Mendengar kotak putih itu, aku bisa merasakan mama, Papa dan paman dokter dan beberapa orang lagi mendekatiku. Tangan Mama meraih tanganku, hangat dan nyaman sekali.
Aku hanya ingin tidur lagi. Kenapa mereka malah menggangguku saat aku mau tdur. Mereka berisik sekali. Aku pun membisikkan permintaanku ke mama yang waktu itu tidak begitu jelas wajahnya.
“Ma, aku Cuma ingin tidur lagi. Mama jangan menangis ya.”
29 Maret’12
Silahkan dibaca
About Me
Pengikut
Search This Blog
Pinterest Gallery
Instagram Shots
Tweet Tweet
Like us
About Me
Blog si Penyuka dan Pengagum Tawon (Bahasa Indonesia: Lebah, Bahasa Inggris: Bee).
Kesukaan lainnya:
Buku terutama fiksi, rajut, tapi semuanya masih dalam tahap belajar, ;)
Keep moving forward, Bee!
0 comments:
Posting Komentar