Alhamdulillah lulus,
Sangat senang sekali saat aku bisa menyampaikan satu kalimat
itu kepada kedua orang tuaku. Saat aku pulang ke rumah hari itu, hari dimana
aku lulus atau tidaknya skripsi, tak kusangka mereka berdua menunggu
kedatanganku. Padahal aku yang ditunggu, pulang terlambat.
Melihat cerah yang terbias dari kedua wajah mereka seakan
melecut semangatku untuk segera menyelesaikan proses revisi dan segera mendapatkan ijazahku.
Moment wisuda yang harusnya menjadi suatu moment yang sangat
menyenangkan, entah kenapa malah menjadi suatu moment yang ngin segera dilewati.
Rasa bahagia itu ada dan cukup besar namun tak lebih besar hingga mampu
menutupi mendung yang terus menggantung. Maaf.
Aku sendiri tak mampu mendeskripsikan apa yang menggantung
di balik awan itu. Aku bingung apa itu. Untuk menghadapi awan kelabu itu, yang
bisa aku lakukan hanyalah menyerahkan semua kepada-Mu, Rabbi.
Bukan aku tak mau bersyukur, aku bersyukur, sangat sangat
bahagia dengan salah satu cerita dalam hidupku ini. Tawa keluarga, teman,
ucapan, itu mampu mengusir awan kelabu itu, sementara. Palingtidak bisa
mengurangi kadar kepekatan kebingungan itu. Terima kasih untuk semuanya.
Mungkin, ini waktunya, me
time.
Dan hei, live must go
on right? Aku masih menjalani hari seperti biasa, bahkan lebih lebih penuh
syukur. Namu tak lupa, selalu menyisir dan memilah dengan teliti.
Another side of graduation. Yapp, graduation is always be wonderful thing. But there's another thing with it.
0 comments:
Posting Komentar