Cara Mencintaimu


ini hanya sebuah cerita fiksi yang tiba-tiba muncul suatu saat....

“Gimana apanya?! Aku belum ada ganti, sama sekali ga da ce laen ga’ dket ma aku. Apalagi dibilang sahabat gitu, sedang kamu Ra....”
“Aku apa? Aku punya sahabat cow salah ya? Aku dengerin temen cerita tentang masalah dia, itu salah ya? Kamu tu ga pernah mau ngerti aku. Kamu egois banget. Aku ikut OSIS aja kamu ga suka? Apa itu ga terlalu over Ji?”
“Kamu tu yang ga pernah belajar ngerti aku.”
“Whatever!! Gud nite.”
Pertengkaran sepasang kekasih melalui udara itu berakhir. Tiara pun meletakkan ponsel di dalam laci meja rias. Tersilent. Dia ingin sendiri dulu, belum mau diganggu Aji. Ia takut jika pertengkaran itu terus berlanjut, ia akan mengambil keputusan yang salah. Iya pun hempaskan tubuh rampingnya di atas tempat tidur berlapis sprei berwarna biru. Dia memandang langit-langit di kamar bernuansa putih dan biru itu. Air mata pun tak tertahan lagi. Mengalir lembut menelusuri lekuk pipi sang empunya.
Air mata itu terus mengalir, namun sumber itu tak pernah lepas menatap langit-langit kamar. Di sana, di langit-langit putih itu terputar kembali kenangan-kenangan indah di antara mereka berdua. Entah kenangan manis atau memilukan, namun semua itu sangat indah untuk dikenang kembali. Hampi 3 tahun Tiara dan Aji menjalin kedekatan. Ya, sejak mereka masih duduk di kelas IX Sekolah Menengah Pertama. Kedekatan itu berawal dari persahabtan. Terlukis jelas wajah Aji ketika menyodorkan sebatang cokelat waktu itu, dan mengungkapkan isi hatinya dengan wajah tertunduk tak mampu Aji menatap wajah sahabatnya itu, dia terlalu kagum dengan kecantikan yang dimilikinya. Tiara hanya bisa memberikan ekspresi kaget, bingung, ingin ketwa, mengingat Aji itu orangnya sangat cuek dan tak pernah menyukai hal-hal yang romantis. Kenapa sekarang bisa bersikap seperti itu. Wajah aji merona, ucapannya terbata. Sungguh indah dan manis kejadian itu.
Namun, layar pun menjadi gelap. Berubah menjadi adegan seorang laki-laki mengendarai sepeda motor menyusuri jalan di kota. Di belakang cowo itu, duduklah seorang gadis cantik, memakai jeans dan kaos putih. Cowo’ itu Aji dan cewek yang diboncengnya bukan Tiara, tetapi Angela. Tiara pun melihat itu karena pemberitahuan seorang teman. Perasaan Tiara hancur, lebur, dan terbang entah dibawa kemana. Dia tak kuasa menahan tangis dan emosi yang meledak. Namun emosi yang membuncah itu mampu ditahannya. Dia menunggu pengakuan muncul dari bibir Aji dengan sendirinya, tanpa ada tanya mendahului. I, dua hari, sehari, tiga, empat, seminggu, dua minggu. Cukup. Tiara tak mampu lagi menahan. Dia pun bertemu Aji di sebuah restaurant yang berada di pinggir jalan ketika Tiara melihat Aji dengan cewek lain. Setelah selesai makan, Tiara pun membuka bibir dan sakit yang dirasakannya.
“Aji, aku pengen ngomong sesuatu ma kamu.”
“iya Ra, ada apa?” jawab Aji dengan tatap penasaran.
“Emm, beberapa hari yang lalu, aku melihat seorang cowok bersama seorang cewek sedang mengendarai sepeda motor di jalanan itu.” Ucap Tiara datar sambil mengacungkan telunjuknya ke arah jalan di sisi restaurat itu.
Aji hanya tertegun. Kaget. Tiara mengungkapkan itu dengan ekspresi wajah yang datar, bahkan mendekati tanpa ekspresi. Aji sadar telah membuat cewek di hadapannya sakit, ia sadar sudah dua minggu kejadian itu terjadi. Ia bingung harus menjawab apa. Namun, ia kagum pada cewek yang ada di hadapanyya, dia tak emosi menanyakan hal itu. Apa karena terlalu sakit.
Aji belum menjawab.
“Aji, aku menunggu.” Ucap Tiara lirih dan serak.
“Iya Ra, aku meminta maaf tidak mengatakan hal ini. Tetapi aku mau menjelaskan sesuatu. Cewek itu, yang aku bonceng, kamu pasti tahu siapa dia.”
“Ya, dia Angela. Aku mengenalnya dengan baik. Dan reputasinya pun aku tahu. Pengganggu hubungan orang lain. Awalnya aku tak percaya, tapi naas. Aku sedang mengalaminya.” Ekspresi Tiara masih sangat datar.
“Angela dan aku ga ada hubungan apa-apa Ra. Waktu itu kami sedang mengurus sesuatu, amanah dari Bapak Budi. Aku yakin kamu tahu itu.”
“Iya aku ngerti Ji. Aku hanya minta penjelasanmu kenapa kamu ga bilang kalau kamu pergi ma dia? Aku malu saat itu aku mengetahuinya dari orang lain. Sakit Ji di sini. Perih banget.” Suara Tiara bergetar menahan air mata sambil memegang dada.
“Maafin aku Ra. Aku ga ada maksud untuk itu. Waktu itu kamu sedang konsentrasi untuk persiapan Olimpiade, jadi aku ga mau ganggu kamu. Please, percaya ya ma aku. Aku sayang ma kamu Ra.” Aji berusaha meyakinkan Tiara. Tiara hanya diam. Dan air matanya pun meleleh, bukan karena kesedihan. Namun karena perhatian Aji yang begitu besar,dan Tiara menyelahkan hal itu. Dia terharu.
Aji panik, “Ra, maafin aku. Aku ga kuat ngeliat kamu nangis.” Ucap Aji sambil mengusap air mata Tiara.
“Maafin aku Ji, aku yang ga bisa ngerti sayang kamu. Maaf.”
Kejadan itu sungguh membekas, Tiara semakin yakin akan rasa sayang Aji. Namun, kejadian tadi siang tampak jelas di hadapan Tiara. Tiara sedng duduk ngobrol masalah tema mading sekolah dengan Rifan, namun tanpa basa basi Aji langsung meraih tangan Tiara dan diantar pulang. Tiara hanya diam dan begitu samai rumah dia langsung masuk tanpa berkata sepatah pun pada Aji. Tiara masih belum mengerti, kenapa? Ini kan tugas dari sekolah dan Rifan adalah sahabat Tiara. Kenapa aji seperti itu. Dan kenapa masalah ini sampai di melarangku melanjutkan amanahku di OSIS?
Pertanyaan-pertanyaan itu muncul terus menerus. Tiara pun mencoba memejamkan mata, merenungkan kejadian tadi siang. Dia berpikir, saat Aji dengan ceweklain itu, dia menunjukkan rasa sayang yang dia berikan dengan caranya sendiri. Dan kejadian tadi,,,,,
Tiara tersadar, ia salah. Aji melakukan hal itu karena ia cemburu pada Rifan, tetapi yang membuat Tiara bangkit untuk mengambil ponselnya adalah..
“Halo, Aji belum tidur kan?” Tiara berkata, namun belum terdengar jawaban dari ujung sana. Dia menunggu beberapa saat dan. “Iya Ra, ada apa?” Suara Aji serak.
“Kamu kenapa Ji? Ga sakit kan?”
“Ga kok Ra. Ada apa Ra?”
“Ji, maafin aku ya. Aku minta maaf banget. Aku sadar aku terlalu cepat menyalahkanmu. Aku tadi memang lupa kalau tadi itu sudah waktunya aku minum obat. Kamu tadi mau ngingetin aku kan?” suara Tiara terbata.
“Iya Ra, tenang aja. Aku udah maafin kok. Aku juga minta maaf tadi aku tersulut emosi sampai-sampai melarang kamu. Maafin Aji ya. Nah sekarang beri aku senyuman terindah my dear.” Suara Aji sangat merdu.
“Iya Aji. Aku maafin kok. Ni udah senyum.”
“Nah gitu donk. Sekarang kan udah malam. Tiara tidur ya, biar cepet fit lagi. Jadi ga usah minum obat lagi. OK!”
“Yes Sir! He,,”
“Nice dream Tiaraku. Good night”
“Night too Ji.”
Tuut tuuut. Suara pun terputus. Kini seyum itu tersunnging indah di bibir mungil Tiara. Dia punmerebahkan badannya ke atas tempat tidur ditemani sebuah boneka istimewa dari Aji. Dan ia pun segera terbawa ke alam mimpi.

CONVERSATION

5 comments:

  1. cerpen yang bagus

    kadang aku punya ide bikin cerpen

    tapi akhirnya cuma tetep jadi ide

    karena aku belum mahir tekniknya

    mbok kapan - kapan aku berguru tien....

    BalasHapus
  2. weleh, kui cerpen butuh buanyak saran ki,,, saran dan kritik ya tentang cerpen, makacih

    BalasHapus
  3. fiksi? benarkah?
    sip2 bagus banget,mpe krasa dalem bget bwtq,, terusin bkryanya...

    BalasHapus
  4. emmmmmmmmmmm...........
    ada dech,,,, uke!!!
    Siap komandan!!!

    BalasHapus